Calon Ibu

Cerpen: Pinasti S Zuhri

Nadia tak dapat memejamkan mata. Tubuhnya menggeliat di atas ranjang. Sesekali terdengar tarikan nafas panjangnya memenuhi ruang kamar. Ucapan Deni mengadu fikiran dan perasaannya.

”Semua akan baik-baik saja, jangan sampai diketahui orang lain.”

Mata Nadia bekaca-kaca, memandang cermin meja rias di depan ranjangnya.

“Tuhan apakah hanya ini pilihanku.”

***

Di bilik bambu beratap rumbia, tangis bayi memecah sunyi menemani rintik hujan. Nadia terbaring lemah di atas sehelai tikar, keringat membasahi wajahnya. Senyum mengembang saat menatap seorang bayi yang baru saja lahir dari rahimnya. Nadia bangkit, menimang bayi yang masih berlumur darah. Senandung nina bobo meredakan tangis bayi itu.

Gemuruh meledakkan suaranya, bayi itu kembali menangis. Nadia tersentak, cepat-cepat dia letakkan anaknya ketika teringat wajah dan ucapan Deni. Nadia mondar-mandir sambil meremas rambut, lalu kembali mendekati bayinya yang tetap menangis. Dengan gemetar ia julurkan tangan tapi ditariknya kembali setelah menyentuh bayi itu. Nadia menangis dan akhirnya dengan cepat membekap mulut anaknya dengan kain. Tak terdengar lagi sedikitpun suara bayi itu. Senyum Deni menjelma dalam fikirannya.

***

Dengan sisa-sisa tenaganya Nadia melangkah tertatih membawa anaknya menuju kebun di belakang bilik bambu. Angin dingin menerjangkan hujan ke tubuhnya. Lolongan anjing dan suara binatang malam menyambutnya. Sesekali petir berkelebat menerangi jalan yang Nadia lalui. Dia tebarkan mata, tak seorang manusiapun kecuali pohon kelapa dan pisang yang tumbuh diantara semak belukar melihatnya. Di tengah kebun pisang Nadia meletakkan bayinya.

***

Nadia melangkah pulang setelah mengubur bayinya, sesekali ia mengusap air mata bercampur hujan yang membasahi wajahnya. Setelah mengunci pintu Nadia berbaring. Nadia mulai memejamkan mata saat lampu teplok mendadak padam. Dia terkejut, tak ada angin yang masuk ke rumahnya, ia meraba-raba mencari korek api dan menghidupkan lagi lampu minyak itu lagi. Sayup-sayup dia mendengar suara yang tertawa dan menangis, samar-samar dari celah dinding bambu Nadia melihat sebentuk wujud yang mirip bayi menuju ke arahnya.

“Ibu…” Suara lembut memanggil.

Nadia tercekat, tubuhnya gemetar menyaksikan kejadian yang baru dialaminya. Nadia mundur seiring bunyi pintu dibuka, belum sempat Nadia menghela nafas panjang tiba-tiba bayi itu sudah berada di depannya.

“Ibu…”

Kembali bayi itu memanggil Nadia sambil melambaikan tangannya, Nadia makin ketakutan melihat kedua kaki anak itu tidak menjejakkan tanah dan tubuhnya berlumuran darah. Dengan gemetar Nadia membuka mulutnya.

“Kamu siapa.”

“Aku anakmu bu, barusan ibu kubur.”

Nadia tidak percaya dan berusaha lari namun sayang kakinya tak mampu beranjak dari tempatnya berdiri.

“Apa salahku hingga ibu tega membunuhku.” Tanya bayi yang berlumur darah itu mencecar.

“Ibu terpaksa nak, ayahmu yang menyuruh” Kata nadia berdalih, tubuhnya yang lemah membuat suaranya sayup-sayup sampai.

“Apakah aku aib bagi ayah dan ibu.” Mata bayi itu melotot mengalirkan darah.

Nadia sempoyongan dan jatuh. Duduk sambil mendekapkan tangannya ke muka tak mau melihat bayi di hadapannya.

“Bukan itu sebabnya nak? Nadia mencoba berkilah.

“Ibu bohong!!!, ibu malu untuk merawatku, bu aku adalah benih cinta ayah dan ibu yang belum saatnya.”

Suara lolongan anjing lapat-lapat terdengar, guruh menderu seiring angin bertiup kencang, jeritan tertahan keluar dari mulut Nadia, bayi itu perlahan mendekatinya.

“Benar nak tapi….” Kalimat Nadia terputus karena sakit terasa kembali di perutnya.

“Tapi apa bu? mengapa ibu tak berikan aku ke orang yang mau merawatku.” Bayi itu terisak pilu melihat Nadia yang hanya menangis tanpa menjawab pertanyaannya.

“Maafkan ayah dan ibu nak, sungguh ibu baru sadar atas apa yang selama ini ibu perbuat. Ibu menyesal nak, andai kau bisa kembali, ibu akan merawatmu, ibu akan menyayangimu.” Nadia memohon sambil menundukkan kepalanya ke tanah.

“Apa arti sesal bagi orang seperti ibu,” ucap bayi itu melayang mendekati Nadia.

“Ibu khilaf nak, ibu takkan mengulanginya lagi.” Nadia memberanikan diri memandang bayi yang berdiri dihadapannya.

“Ah…. janji yang sangat mudah untuk diingkari.” Bayi itu makin mendera Nadia dan perlahan mendekatinya.

“Ibu bersumpah nak, ibu bertobat, beri kesempatan untuk ayah dan ibu memperbaiki semua kelakuan yang telah ibu dan ayah lakukan.” Tak ada kata lain yang bisa Nadia ucapkan selain memohon dan memohon.

Suasana hening sejenak hanya suara deru angin mengalun mengantarkan pekat pada Nadia. Bibir bayi itu menyeringai. Lalu…

“Ibu dan ayah tentunya akan mengulanginya lagi.”

“Tidak nak… tidak!!!” Nadia menjerit parau

“Percayalah bu, Tuhan akan memberi ganjaran yang setimpal, aku tak bisa berbuat apa-apa, aku hanya menerima akibat dari apa yang ayah ibu perbuat.”

Bayi itu melemah. Nadia terus menangis dan menjerit histeris. pasrah, menunggu apa yang akan menimpa dirinya.

“Bu… aku kedinginan, aku lapar, aku butuh susu, aku butuh kehangatan ibu juga, ikutlah denganku bu! Ikutlah! bukankah ibu sudah menyesal dan ingin bersamaku, bukankah ibu menyayangiku dan mengasihiku, ikutlah denganku bu!”

Tangan kecil itu menggapai gapai Nadia yang meronta. Tanpa sengaja tubuh Nadia menyenggol lampu teplok, akibatnya Nadia tak bisa melihat apa-apa, ia hanya berteriak dan meronta ketika tangan itu menyentuh tubuhnya.

***

“Bangun Nadia!!!, Bangun!!!”

Ibu Nadia mengguncang guncang tubuh yang terbaring di ranjangnya sambil menangis. Nadia terbangun lalu memeluk ibunya, keringat deras mengucur.

“Ibu maafkan Nadia, Nadia telah berdosa dan membuat aib dalam keluarga kita.”

“Ada apa Nadia? ibu tak mengerti apa yang kau katakan, kamu sadar Nadia.”

“Nadia sadar bu. Nadia hamil, Deni menghamili Nadia”

“Apa!!!”

Ibu Nadia melotot tidak percaya dengan apa yang barusan dikatakan anaknya dan …

“Plak.” Satu tamparan mendarat di muka Nadia.

“Kamu harus gugurkan kandunganmu Nadia!!! membuat malu keluarga saja!!!”

Palembang, Juni 2006