Benteng Aur Duri, Saksi Perlawanan Masyarakat Terhadap Penjajah

LAHAT, BL- Sebuah lokasi yang menjadi tempat peperangan masyarakat Lahat melawan penjajah Belanda pada tahun 1800 an, Benteng Aur Duri, ditelusuri oleh Tim Ini Lahat Nian, Minggu (26/12).

Tim Ini Lahat Nian menelusuri Benteng Aur Duri bersama Kadus Jati Ismet Pahrudin, dan ditemani juga Dendi Saputra dan Joni Pemuda setempat, yang terletak di Desa Jati, Kecamatan Pulau Pinang, Kabupaten Lahat ini yang lebih dikenal dengan sebutan Benteng Jati, menjadi saksi kegigihan dan ketangguhan para Pejuang Pasemah dan sekitarnya dalam berperang menghadapi Kolonial Belanda.

Panjang Benteng ini dulunya mencapai lebih kurang 1 KM dengan kedalaman lebih dari 2 meter. Hanya saja kedalaman benteng ini sekarang sudah berubah dan lebih dangkal, akibat timbunan tanah dan faktor alam.

Disebut Benteng Aur Duri, karena memang benteng ini dipagari tumbuhan pohon bambu berduri tebal yang berbaris rapat, sehingga sangat sulit ditaklukkan pasukan Belanda.

” Benteng Aur Duri Jati baru bisa ditaklukkan setelah terjadi penghianatan.” Kata Jurai Tue (Ketua Adat) Saripul Rahman.

Dalam catatan sejarah, Benteng Aur Duri baru bisa ditundukkan setelah lebih dari 5 kali serangan besar oleh pasukan Belanda . Dari buku Pasemah Sindang Merdika 1821 – 1866 yang ditulis oleh Kamil Maruf, Nanang S. Soetadji, dan Djohan Hanafiah dari Paguyuban Masyarakat Peduli Musi, dituliskan bahwa penyerangan Benteng Jati dimulai pada tanggal 17 Oktober 1857 dengan dipimpin langsung oleh panglima tentara Belanda, Letnan Kolonel Lameree.

Dalam penyerangan pertama, Letkol Lameree dibersamai 9 perwira dan 26 prajurit infantri Belanda, 18 prajurit orang Afrika, dan 182 orang prajurit Belanda asal Jawa. Sementara pasukan di Pasemah di Benteng Jati di bawah pimpinan Piruhun hanya berjumlah 600 orang. Sulitnya menembus aur duri yang tebal, pasukan Belanda menarik diri ke Selawi yang telah dijadikan Pos Tentara Belanda dengan membawa korban 6 orang tewas dan 26 orang luka-luka.

Pada tanggal 28 Oktober 1857, Pasukan Belanda di bawah komando Lameree kembali melakukan penyerangan dengan pasukan yang lebih besar lagi dengan membawa serta meriam. Terdiri dari 9 perwira dan 33 prajurit orang Belanda, 18 prajurit orang Afrika, 193 prajurit asal Jawa, serta 12 prajurit artileri dan 2 buah meriam. Serangan pasukan Belanda yang dilakukan dari 4 penjuru mendapat balasan tembakan gencar dari berbagai penjuru. Meski, beberapa pasukannya sudah mencapai tanggul bambu duri, Lameree terpaksa menarik kembali pasukannya ke Lahat karena anak buahnya banyak yang mengalami luka-luka. Serangan kedua ini pun kembali gagal.

Dua Kali gagal menyerang Benteng Jati, Kolonel Lameree meminta tambahan pasukan ke Komandan Bala Tentara Belanda di Batavia, Jendral van Swieten. Naasnya, masa menunggu pasukan bantuan Belanda yang memakan waktu lebih dari 2 bulan, dimanfaatkan Piruhun dan pasukan Pasemah mengacau dan menjarah pos-pos pasukan Belanda di dusun-dusun di sekitar Lahat dan menghimpun pasukan mencapai sekitar 600 orang. Bahkan, di situasi ini Piruhun dan pasukannya mengepung dan menembaki Benteng Belanda di Lahat, namun dapat dihalau. Dari kejadian ini, diduga setelah serangan kedua Benteng Jati, Piruhun telah keluar dan memisahkan diri dari Jati.

Awal Januari 1858, setelah bala bantuannya datang, pasukan Belanda mengepung Jati dengan menduduki Dusun Selawi, Pandan Arang Ulu di belakang Jati dan Muara Siban di seberang Jati. Termasuk di pulau-pulau Sungai Lematang di bawah Jati dibuat pertahanan sarang-sarang meriam yang dilindungi dengan karung-karung pasir yang ditinggikan.

Tepat di tanggal 10 Januari 1858, pasukan Belanda kembali melakukan serangan besar-besaran ke Benteng Jati dari semua arah. Hanya saja, pasukan Benteng Jati ternyata sudah memperhitungkan serangan lanjutan dari pasukan Belanda. Karena, setelah serangan kedua, ternyata sudah ada tanggul tambahan atau tanggul ke 3 di dalam Benteng Aur Duri untuk melindungi pasukan dari pecahan mortir dan granat Belanda. Dalam serangan ini Belanda kembali menarik pasukan karena banyak korban akibat serangan serentak dan bertubi-tubi dari Pasukan Pasemah yang menunggu serbuan Pasukan Belanda di Benteng Aur Duri. Tercatat ada 18 tentara Belanda yang luka-luka dalam serangan ini, termasuk Mayor van den Bergh dan Letnan Greij.

Lima hari kemudian, penyerangan Pasukan Belanda kembali dimulai dengan dipusatkan di pintu gerbang Jati dengan memasang ranjau (landmijn). Sementara tembakan meriam terus menerus dilakukan dari Slawi, Pandan Arang, Muara Siban dan pulau di bawah Dusun Jati. 2 orang pasukan Belanda tewas bersama 28 orang luka-luka dalam serangan ini. Pasukan Belanda kembali mundur untuk menghindari korban lebih banyak.

Awal Maret 1958, Panglima Belanda Letkol Limeree digantikan oleh Letkol Happe. Belanda mengeluarkan strategi baru dengan mengepung atau mengelilingi Benteng Aur Duri dengan pos-pos yang berjarak 300 atau 350 meter dengan 50 prajurit penjaga setiap pos. Kemudian satu pos dan pos lainnya mengadakan patroli sehingga orang tidak bisa keluar masuk benteng. Akal licik Belanda pun berjalan dengan memanfaatkan mata-mata untuk menunjukkan letak perbekalan di dalam Benteng. Hal inilah juga yang diduga menyebabkan terjadi perselisihan di dalam Benteng. Situasi yang kacau dimanfaatkan Belanda untuk menyerang lebih gencar. Sementara, dari pejuang-pejuang benteng banyak jatuh korban hingga melarikan diri dari dalam benteng. Hingga pada 29 Maret 1958 berakhirlah perlawanan Jati.

Kadus Jati Ismet Pahrudin menyampaikan bahwa dulu sering ditemukan oleh masyarakat bekas selongsong peluru, bola besi bekas umpan meriam, dan serpihan serpihan sisa bom disekitaran Benteng Aur Duri.

Menurut Irfan Witarto,  salah satu anggota Tim ini Lahat Nian, perjalanan menuju Desa Jati berjarak sekitar 6 Kilo Meter dari pusat Kota Lahat. Jika ditempuh dengan kendaraan roda dua hanya memakan waktu kurang lebih 10 menit saja.

(gjb)